Berpandu

Saat ini, hampir semua pengguna media sosial pasti tak asing dengan motivator atau trainer. Mereka adalah orang-orang sukses yang ahli untuk memotivasi orang lain agar lebih bersemangat dalam menghadapi tantangan hidup. Biasanya memberi kutipan-kutipan atau meluncurkan buku. Saya pun membaca beberapa buku dari mereka dan memang bagus. Sayangnya, saya amati beberapa peristiwa, masyarakat lebih cenderung menempatkan buku atau kutipan dari motivator itu sebagai satu-satunya panduan hidup. Mari kita sedikit bahas.

Saya muslim, jadi saya gunakan pendekatan agama saya untuk membahasnya. Hmmm… terdengar seperti sedang membuat karya ilmiah… Baik, seorang muslim tentu sudah tahu bahwa panduan atau petunjuk hidup adalah Al-Quran dan Hadits, tetapi orang-orang malah seakan tidak peduli dan lebih suka ke kutipan dan buku motivator. Padahal buku-buku itu juga mengambil ayat-ayat dalam kitab Al-Quran maupun hadits shahih. Anehnya, ketika saya mengajak atau diskusi ke kajian tafsir Al-Quran, mereka menganggap kajian yang berat, sulit dipahami, level tinggi dan lain sebagainya, sehingga kajian tafsir tidak begitu populer di tengah masyarakat. Padahal Cuma duduk dan mencermati ceramah dari ulama menafsirkan Al-Quran, tak perlu paham bahasa arab. Di situ, banyak sekali petunjuk yang sangat memotivasi kita, bahkan orisinil dari firman Allah. Ketika kita memahami dan menghayati asmaul husna dan kita sebutkan dalam setiap doa, sungguh obat galaw yang ampuh. Itu tips dari ulama.

Apakah lantas mengabaikan motivator atau trainer tadi? Ya tidak juga. Dengan keahlian mereka, terkadang membuat hasil tafsir para ulama menjadi lebih mudah dipahami. Tak ada salahnya membaca buku-buku mereka atau mengutip kutipan mereka juga, tetapi, ingatlah, hendaknya kita dahulukan berpandu pada Al-Quran dan Hadits, kitab atau buku yang lain sebagai suplemen agar kita bisa memperkaya ilmu dan wawasan. Bukankah motivasi kita menuju surga? Dan Allah pun telah memberi panduan yang lengkap.

إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ  يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً

Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Isra’ ayat 9)

Tinggal nge-gas

Suatu siang yang panas di serambi rumah teman dengan segelas es sirup Orson, saya berbincang dengan teman yang kebetulan baru saja lulus jadi tukang insinyur dan sedang menggeluti peran transporter, yakni merintis usaha persewaan mobil. Di salah satu termin diskusi panel ala pos ronda itu, teman bercerita salah satu pengalaman ketika ia sedang mengantar pelanggan keliling Jogja.

Di jalan sempit yang agak menanjak, ada pesepeda yang berjalan agak ke tengah karena berusaha menghindari kendaraan yang ada di depannya. Teman saya memilih untuk tetap di belakangnya beberapa saat sebelum mendahuluinya, tetapi si pelanggan bertutur “diklakson saja mas!”. Teman saya pun tak menurutinya, justeru meminta si pelanggan untuk bersabar sebentar karena pesepeda itu sebenarnya sudah tahu. Teman saya juga mengatakan “Saya sering bersepeda juga pak, kalau saya klakson terus, dia akan minggir bahkan mungkin berhenti. Itu akan sangat melelahkan, karena irama gowesnya akan hilang”.

Cerita tadi juga sering saya alami, baik ketika melihat atau sedang membonceng di mobil teman. Tak jarang saya melarang si sopir mengklakson sepeda motor, khususnya sepeda jika memang tidak terindikasi ugal-ugalan atau membahayakan lalu-lintas. Sering juga saya disuruh minggir meski sudah pada posisi paling pinggir jalan.

Pelajaran yang bisa dipanen adalah, saya bersyukur sama seperti teman saya tadi karena telah mengalami menjadi pesepeda, pengendara motor dan pengemudi mobil meski sudah lama tak lagi mengemudikan mobil. Artinya, saya memahami kondisi ketika saya mengendarai salah satu kendaraan tadi. Inilah yang menumbuhkan perasaan tepa selira (tenggang rasa) ketika berlalu-lintas. Semisal ketika saya bersepeda, saya tidak boleh seenaknya mengambil lajur karena akan membuat kaget pengendara mobil, sebaliknya misal saya sedang mengendarai mobil, saya tak perlu memberi klakson panjang atau terus menerus kepada roda dua yang memang sudah di lajurnya.

Jadi, bagi yang sedang mengendarai kendaraan bermotor, khususnya mobil, jangan jadi orang yang tamak. Bersabarlah, hanya sebentar. Bukankah tinggal nge-gas saja? apalagi jika di kabin mobil tidak kepanasan dan kehujanan. Bersyukurlah bagi kita yang hanya tinggal nge-gas saja.

Woles wae dab! mbok ya ndelok kahanan, ming kari nge-gas wae kok ndadak karo “nge-gas”, nek pingin ora mondak-mandek numpaka ambulan, nek pingin cepet mabura! -Tukang becak terjebak macet-

Sekarang, Sukar Berbahasa Indonesia

Sukar, bukan nama penjual angkringan. Menurut KBBI, sukar adalah susah; sulit dipecahkan atau diselesaikan. Entah sudah benar apa belum saya memilih kata sukar dalam judul tulisan ini.

Kalau diperhatikan, sekarang jarang orang menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Mulai dari alasan gaul hingga serapan bahasa asing. Kata-kata yang sebenarnya baku seperti gamang, gusar, alih-alih, bergeming layaknya satwa yang hampir punah.

Saya sering mengamati orang-orang berbicara di sekeliling saya. Rupanya mereka seperti lebih mahir menggunakan bahasa asing seperti Inggris atau Arab. Dalam satu kalimat, ada saja disisipkan kata asing. “Kita harus bisa mem-protect diri agar tidak terbawa arus”, “Pokoknya besok kamu harus make sure acara itu”, “Mohon yang ikhwan maju ke depan!” dan lain sebagainya. Ada juga kata yang seolah-olah tidak ada padanan kata bahasa Indonesia, seperti incumbent atau sering ditulis di media menjadi inkamben, ternyata ada padanannya yakni “petahana”.

Itulah mengapa sekarang sepertinya lebih mudah menggunakan bahasa atau setidaknya kata asing dalam menyusun sebuah kalimat. Bahkan ketika saya membuat sebuah acara, sulit sekali menentukan slogan tapi harus bahasa Indonesia, semua ide yang muncul dari peserta menggunakan bahasa Inggris. Hal ini bukan berarti bahasa Indonesia miskin perbendaharaan kata, mungkin kita lebih ter-influence dari film atau bacaan kita sehari-hari yang berasal dari asing. Contohnya kalimat saya baru saja Tongue Out

Jika untuk mempermudah penyampaian informasi, tak masalah. Tapi kalau untuk pencintraan agar nampak mutakhir, sebaiknya hati-hati. Sudah banyak orang yang terpeleset karenanya.

Lihatlah komentator MotoGP, Matteo Guerinoni. Orang Italia yang saya acungi jempol berbahasa Indonesianya sangat baik untuk kalangan orang asing bahkan mungkin saya pun kalah. Tak usah berdalih dia sudah lama tinggal di Indonesia, lha wong kita yang sejak lahir di Indonesia saja masih belepotan berbahasa Indonesia.

Jadi menurut saya, menguasai bahasa asing itu harus, tetapi berbahasa Indonesia adalah kebanggaan.

Manusia Anti Kritik

Pernahkah kita dinilai seseorang tapi disampaikan oleh orang lain? Misal si B memberi penilaian terhadap A tetapi ngomongnya ke C, atas seizin B, si C menyampaikan hasil penilaiannya kepada A, dalam hal ini si C tidak memberikan dari siapa penilaian itu berasal kepada si A. Pernah? apa malah bingung? hehe…

Saya sering mendapati hal semacam itu. Awalnya, saya bersikeras berupaya menyanggah semua penilaian yang sifatnya negatif tapi setelah dipikir-pikir malah menghabiskan tenaga dan tak berarti apa-apa. Sekarang, saya coba dengarkan saja penilaian-penilaian itu entah dari siapa saja asal tidak berupa fitnah. Misal, saya diberitahu bahwa banyak teman saya yang mengeluh karena saya tidak disiplin. Meski mulut ini terasa gatal dan ingin sekali untuk menyangkal dan meyakinkan teman saya yang menyampaikan hal itu, saya coba untuk menerima saja. kenapa? karena saya takut menjadi orang yang anti terhadap kritikan. Apabila tiap penilaian seperti itu saja saya mati-matian untuk menyanggah, apalagi orang-orang yang menilai tadi menyampaikannya langsung kepada saya alias kritik tatap muka, bisa membakar angkara murka haha…

Kata psikolog, setiap orang mempunyai sisi yang tak bisa dilihat dirinya sendiri. Maka orang lain yang akan melihat sisi itu dan menyampaikan kepada anda, baik berupa pujian atau kritikan. Jika dan hanya jika kita menerima pujian dan anti terhadap kritikan, maka? suatu hal yang membahayakan. Sepertinya :)

Image: http://magicalgains.blogspot.com/2013/09/the-art-of-recieving-criticism.html

Backup MySQL Pada Background Process

Terkadang kita dihadapkan pada situasi membackup database dengan mysqldump di server client atau remote padahal databasenya sangat besar. Kalau kita tunggu sampai selesai bisa memakan waktu berjam-jam dan gawatnya sudah jam pulang kerja hehe…

Kita bisa memanfaatkan utility nohup pada linux, akronim dari “no hang up”. Jadi, nanti ketika kita logout dari SSH dan tidur, proses backup masih terus berjalan hingga selesai.

berikut contoh penggunaannya:

ssh ke server:

ssh btriaji@192.168.64.24

setelah login, mulai menggunakan perintah mysqldump:

nohup [perintah] &

Contoh:

nohup mysqldump -h192.168.64.24 -uroot -pSECRET -P5089 -v -K -R --triggers jogja_pustaka | gzip -c > /DATA/backup/jogja_pustaka.sql.gz &

Ketika dijalankan, akan muncul ID proses. misal [1]5590, bisa dilihat menggunakan perintah ps.

Silakan dicoba logout dari ssh, jika menggunakan putty jangan klik tombol close langsung tapi ketik perintah exit atau logout karena jika di close, proses akan terminate/berhenti setelah itu, baru silakan close atau matikan komputer anda.

Referensi:

http://www.simplehelp.net/2008/12/22/running-process-in-the-background-with-nohup/

http://publib.boulder.ibm.com/infocenter/pseries/v5r3/index.jsp?topic=/com.ibm.aix.cmds/doc/aixcmds4/nohup.htm

http://www.cyberciti.biz/tips/nohup-execute-commands-after-you-exit-from-a-shell-prompt.html

Angan-angan Maju Tanpa Buku

Keponakan saya yang besar berumur 14 tahun dan duduk di bangku kelas X SMA atau kelas 1 SMA. Ia mengambil jurusan Matematika dan Sains, dulu dikenal jurusan IPA. Ia bercerita kepada saya jikalau nilainya tidak memuaskan. Penyebab utamanya adalah tidak adanya buku penunjang belajar, gaya belajarnya memang mengandalkan literatur atau referensi. Buku referensinya bisa 2-3 dalam 1 mata pelajaran bahkan ketika SMP, dia menyanggah dan memberikan alternatif cara penyelesaian matematika kepada gurunya berdasar buku-buku yang ia baca. Kebetulan bapak saya sendiri yang selalu membimbing cucunya itu untuk belajar karena disiplin ilmunya sama-sama sains. Baik keponakan maupun bapak saya kesulitan untuk mempelajari materi yang diajarkan karena ketiadaan buku atau referensi yang diberikan dari sekolah. Kerunyaman itu bertambah ketika saya baru tahu kurikulum sekarang menuntut siswa aktif mencari sendiri materi dan jika ada kesulitan baru bertanya kepada guru atau guru memberikan garis besar materi kemudian siswa mengembangkan sendiri.

Beberapa guru menyuruh mencari materi lengkap di internet padahal tidak semua siswa mampu memiliki piranti untuk mengakses internet atau membeli layanan internet. Sekolah pun juga tak ada komputer yang bisa dipakai siswa secara bebas meski di sekolah tersedia internet nirkabel (wi-fi). Selain itu, perpustakaan juga tidak lengkap bahkan buku-bukunya sudah obsolete. Kemudian apa yang terjadi? alhamdulillah keponakan saya meski tak memiliki laptop tapi masih punya hape china yang bisa dipakai untuk browsing mencari materi dan saya masih bisa membelikan buku-buku yang mana sekolah tak kunjung membagikan.

Jika dilihat, kurikulum tadi memang bagus tetapi bukankah suatu kekonyolan jika tak tersedia fasilitas penunjang? tak usah muluk-muluk dengan akses internet, buku saja susah didapat. Siswa pun bak pion yang harus selalu maju tetapi bingung. Jika siswa mampu, tak jadi persoalan. Sedangkan siswa kurang mampu, inilah the art of survival. Lepas dari itu atau siapa yang salah, sekolah atau diknas setempat, hal ini merupakan tontonan ringan dagelan pendidikan kita. Saya khawatir jika penyusunan kurikulum bahkan sistem pendidikan ini untuk lebih maju adalah angan-angan belaka. Angan-angan bahwa siswa Indonesia bisa berperang tanpa senjata, maju tanpa buku. Semoga kalian berhasil nak!

Image by timonoko

Secarik Islam Liberal

Ketika saya sedang berselancar di youtube, saya tertarik sebuah video seminar dengan pembicara Ustadz Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, M. Ag yang tak asing lagi bagi saya. Video itu membahas mengenai Islam Liberal. Sebenarnya seminar itu bertema radikalisme Islam dalam kampus-kampus tetapi dia memilih untuk berbicara tentang liberalisme beragama karena dipandang tak kalah berbahaya dibanding radikalisme.

Saya sangat awam dan masih dangkal ilmunya dalam hal-hal semacam ini, jadi saya hanya mengambil beberapa poin penting mengenai ciri-ciri penganut paham Islam Liberal

  • Kebenaran semata-mata ditentukan atas akal pikiran. Sehingga posisi Al-Quran dan hadits berada di bawah akal pikiran, yang mana seharusnya Al-Quran dan hadits berada paling atas.
  • Memaksakan tafsir agar sesuai dengan pemikiran-pemikirannya.
  • Menolak semua hadits yang tidak sesuai pemikirannya tetapi menerima hadits yang sesuai dengan pemikirannya. Di sini terjadi ketidak konsistenan dalam penyeleksian hadits serta tidak menggunakan metode yang ilmiah seperti halnya imam-imam besar ahli hadits.
  • Semua dianggap relatif, Sesat atau tidaknya suatu kelompok hanya Allah yang berhak menentukan. Mereka tidak mengacu pada Al-Quran dan hadits. Mengabaikan bahwa Allah sudah berfirman untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, begitu juga dengan sabda Rasul atas petunjuk Allah.
  • Meragukan otentitas dan validitas Al-Quran dan hadits. Kemudian membuat tafsir-tafsir untuk mengkritisi hal tersebut.
  • Pluralisme agama bukan pluralisme sosial. Mulai dari semua agama dijadikan satu untuk membuat agama baru, mencampur ajaran semua agama meski secara resmi menganut satu agama dan terakhir menganggap semua agama sama yaitu dengan satu Tuhan meski namanya berbeda dan ibadah yang berbeda juga.

Seperti itulah poin utama dalam bahasan islam liberal dan saya pikir, hal-hal seperti ini sangat penting untuk kajian-kajian atau khutbah-khutbah masa kini karena mulai menggerogoti keimanan bangsa dan akhirnya bisa menyebabkan musnahnya peradaban suatu bangsa seperti sejarah silam dan juga yang ada pada Al-Quran.

Silakan disimak lebih detil video tersebut. Pembahasannya ringan dan mudah dipahami, tak perlu khawatir ini bukan garis keras dan tak akan terjadi konflik horizontal hehe…

 

@pedalsepedaku

Yuuuhuuu… kembali nge-blog lagi. Kali ini saya akan membahas tentang akun twitter paling kontroversial di abad pertengahan dan semua dunia harus tau akan hal ini. penting. Akun itu bernama @pedalsepedaku, yang mana merupakan akun twitter saya sendiri hehehe… lalu dimana letak kontroversinya? tidak ada sih tapi banyak orang mengatakan akun itu adalah akun anon (anonymous) serta alay. Berikut penjelasannya.

Begini, di tahun 2010 awal, saya membuat akun twitter untuk publikasi blog saya yang rencananya akan diisi oleh beberapa penulis tentang dunia sepeda yaitu pedalsepedaku.wordpress.com. blog itu lumayan berhasil diterima masyarakat, karena waktu itu sengaja mengambil “pasar” pemula dan aliran parts murmer (murah meriah). Hingga tak jarang artikel blog itu diambil tanpa menyertakan sumbernya, padahal saya kalo nulis pasti mencantumkan sumber atau referensi. Kembali ke akun tadi, bahwa sudah berjalan beberapa waktu dan follower pun meningkat hingga akhirnya vakum beberapa saat yang diiringi tak pernah posting di blog pedalsepedaku. Setelah twitter mulai menggema di dirgantara maya Indonesia, saya coba memainkan lagi. karena teman saya sudah terlanjur banyak, saya tetap mempertahankan nama @pedalsepedaku meski akun ini sudah tak ada hubungannya lagi dengan blog pedalsepedaku.wordpress.com.

Di profile akun @pedalsepedaku tertulis “pesepeda tanpa arah dengan timeline tak terarah” dimaksudkan ketika saya neyepeda, bebas merdeka kemana pun saya mau dan timeline akun twitter yang membahas tak hanya sepeda tapi apa saja kecuali SARA.

Jadi, sudah jelas. Dengan adanya jumpa pers dan fans ini, akun @pedalsepedaku tidak kontroversial dan alay hanya pemilik akunnya yang demikian So Tired

Nexus Aqua Marine Whistle

Nexus Aqua Marine Whistle merupakan salah satu peluit survival yang biasanya ada pada perlengkapan keselamatan kapal laut. Peluit ini didisain tahan air artinya, jika suatu kondisi sedang berada pada guyuran air atau cipratan air, peluit ini masih bisa dibunyikan. Memiliki 2 chamber dan bisa mengeluarkan 2 nada berbeda tergantung teknik meniupnya. Bunyi yang dihasilkan mencapai 106 dB, nyaring tapi menurut saya tidak pekak di telinga. Selain itu, suaranya juga khas, tidak sama dengan peluit pada umumnya. Info lain, peluit ini juga dipakai untuk kegiatan falconry.

Saya menggunakan ini ketika bersepeda khususnya ketika agak jauh untuk salah satu perlengkapan safety. Saat ini, klakson dan suara knalpot mendominasi jalanan sehingga bel sepeda pun tak kan terdengar. Tapi saya menggunakan peluit ini untuk memberi sinyal kepada pengguna jalan lain bahwa ada “sesuatu” yang akan melintas. Sudah terbukti beberapa kali. Berkat nyaring dan terdengar hingga jauh tapi tidak membuat terkejut orang-orang di sekitar, bus antar kota pun pernah hampir berhenti ngebut karena saya tiup panjang dan sekuat-kuatnya. Mau gimana lagi, sudah tak ada ruang untuk saya je!. Selain itu, saya juga pernah fungsikan sebagai alat komunikasi ketika bersepeda rombongan. Kesepakatan pola tiup pun sudah dilakukan sebelum rombongan sepeda bergerak. Semacam morse.

Peluit ini saya beli dari teman sepedaan namanya mas Andi Mardianto. Waktu itu harganya Rp50.000, hanya peluit saja. Entah secara pasti ini made in mana tapi yang jelas dibeli langsung dari luar negeri via online. Jika di luar sih $3-$4 saja, maklum masuk Indonesia butuh biaya juga. Jika tertarik, search aja nama itu di Facebook dan semoga masih ada stoknya.

Mudik Bersepeda 1434 H

Sebelumnya, masih dalam suasana syawal, saya mengucapkan mohom maaf lahir dan bathin.

Baik, saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman baru saya mengenai persepedaan yaitu mudik lebaran 1434H menggunakan sepeda kesayangan yang saya namai “Stacy” dengan rute Jogja – Sragen. Kenapa menggunakan sepeda? karena ingin secuil merasakan ketika jaman Rasulullah SAW menjadi musafir dalam bulan Ramadhan dan tetap berpuasa meski panas terik. Meski saya tidak akan pernah menyamai kemampuan beliau, setidaknya semoga saya bisa lebih menghayati makna puasa

Start dari Jogja tanggal 3 Agustus 2013 pukul 13.30 WIB, dengan tas pannier berisi penuh. Meski cuma ke Sragen, tapi saya biasa membawa oleh-oleh dan baju lebaran jadi ya lumayan berat total sekitar 10 Kg :mrgreen: . Sampai Sragen pukul 20.30 WIB, 7 jam perjalanan karena di Solo saya berhenti dulu untuk berbuka puasa di SPBU. Secara keseluruhan, saya merasa kepayahan ketika gowes siang dan berpuasa. Rasa haus tentu menjadi kendala utama tapi Alhamdulillah saya bisa tetap berpuasa karena bisa ngontrol emosi gowes dengan membatasi maksimal 20 km/jam sehingga ketika sampai, rata-rata kecepatannya adalah 17 km/jam.

Balik ke Jogja start tanggal 11 Agustus 2013, pukul 05.00 WIB. Dengan kondisi tidak berpuasa, saya lebih tenang. Aneka bekal pun sudah saya bawa mulai dari cokelat, pisang, roti, pizza, nasi rendang dan air minum 2 bidon. Seperti akan mengungsi, tapi ya itu dibekali sama ibu, saya bawa saja semua hehe… konsekuensinya beban menjadi berat lagi sekitar 10 Kg seperti waktu mudik. Terpaan angin dan jalan yang ternyata menuju Jogja sedikit menanjak membuat saya kepayahan lagi meski tidak berpuasa alhasil 2 kali saya lakukan istirahat singkat. Meski begitu, ketika sampai Jogja saya lihat rata-rata kecepatan 16 km/jam tapi memakan waktu hanya 6 jam, artinya gowes arus balik lebih lambat dari gowes pulang. Jarak tempuh sekali jalan (Jogja-Sragen atau Sragen-Jogja) yaitu 95 Km.

Pelajaran

Saya sengaja tidak cerita panjang lebar karena jujur saja malu sama teman-teman saya yang lain. mereka mudik jaraknya ratusan kilometer hingga berhari-hari  jelas saja kisah mereka akan lebih menarik.

Kemudian pelajaran yang saya petik adalah, menjaga emosi dalam perjalanan sangat penting. Beberapa kali terprovokasi keadaan atau nafsu. Ini akan merugikan sendiri, tenaga terkuras padahal tujuan masih jauh. Maka dari itu, saya tak mematok target waktu, saya menganggap bersepeda adalah rekreasi, jika tidak merasa nikmat berati sudah melenceng dari paham itu.

Mejaga fisik sebelum perjalanan dengan cara minum cairan isotonik dan makanan berprotein juga karbohidrat pada saat buka puasa dan sahur sangat membantu menjaga fisik tetap prima.

Pannier berisi penuh pada rack belakang tentu distribusi beban tidak menjadi ideal. Sepeda menjadi kurang stabil tapi masih bisa dikendalikan tanpa bersusah payah.

Penggunaan aksesoris penting. Saya selalu menggunakan baju putih polos lengan panjang karena menghindari penyerapan panas kemudian aksesoris keselamatan selain helm, seperti lampu dan reflektor bahkan peluit mutlak digunakan. 2 kali perjalanan dalam kondisi langit masih gelap tentu akan berbahaya apalagi musuh bus AKAP dan sempat juga saya keluar jalan karena habis untuk salip-salipan. Bagaimana jadinya jika kita tak terlihat.

 

Continue reading “Mudik Bersepeda 1434 H”